Rabu, 28 Juli 2010

Editing bukanlah obat dari kasalahan gambar


Kebanyakan dari kita adalah mengganggap bahwa suatu kesalahan pada pengamblan gambar akan bisa diperbaiki pada proses editing. Ini merupakan kesalahan besar, kenapa begitu...??...untuk hasil akhir gambar yang bisa dinikmati dengan enak biasanya orang akan mendefinisikan bahwa gambar tersebut tidak ngeblur alias fokus, tidak bergetar2 alias keder, trus berguncang dsb,maka jika pada pengambilan gambar tsb terjadi kesalahan-kesalahan tersebut maka proses editing tidak akan bisa mengobati hal tersebut, alhasil gambar yang sudah anda shot ya begitu-begitu aja....malahan jika dari awal sampe akhir penuh dengan efek gempa 10 sr ya akhirnya video anda tidak akan ada yang mau nonton. KECUALI....!!!....na ini ada kecualinya....jd anda harus seneng nih di bagia ini.....hehehehe...
KECUALI memang anda meninginkan video anda bergerak2 dengan tidak teratur misalnya, karena pada prinsipnya gaya/stile tsb toh juga sering digunakan oleh para jurukamera d stasiun2 TV kesayangan anda to..? hal ini di maksudkan untuk membuat effec yg real/misalnya dalam keadaan chaosmisalnya....biar seru gitooo....:)
Dan atau jika anda memilih stile berguncang2 tersebut untuk kebutuhan video art....ya tentunya itu sah2 saja...wong namanya juga video art....dah intinya...."apapun videonya minumnya tetep teh....!!!!"...:P

Tips Merekam Video Dengan Sempurna *)

1. Jika memungkinkan, selalu pergunakanlah manual focus.
2. Atur white balance pada setiap perpindahan lokasi atau pergantian sumber pencahayaan.
3. Jika melakukan pengambilan gambar di luar ruangan (outdoor shooting), posisikan matahari di belakang anda. Begitu juga sumber pencahayaan lainnya.
4. Rencanakan ambilan gambar (shot) Anda. Sebaiknya, jangan mulai merekam gambar sebelum Anda siap merekam gambar dengan sempurna. Dan yang lebih penting subyek rekaman Anda siap untuk direkam (komposisi, focus, pecahayaan, dsb. ).
5. Gunakan tripod atau alat bantu lainnya.
6. Dalam kondisi rekaman tanpa alat bantu (handhelds), pegang dan kendalikan kamera video Anda sedemikian rupa agar hasil rekaman tetap stabil (andaikan sebagai secangkir kopi panas).
7. Gunakan zooming hanya untuk menata komposisi ambilan gambar. Hindari penggunaannya pada saat merekam (rolling), kecuali jika ada maksud untuk tujuan tertentu atau memang disengaja karena hasil rekaman akan diproses lebih lanjut (editing).
8. Shoot to edit. Pastikan untuk memproses lebih lanjut setiap hasil rekaman Anda (editing). Untuk itu, rekaman video harus diciptakan dan dipersiapkan sedemikian rupa agar siap untuk diproses lebih lanjut (variasi dan kelengkapan gambar, durasi setiap shot, menghindari fasilitas kamera yang tidak diperlukan, dsb.)Jaga durasi setiap shot. Jangan terlalu panjang dan monoton (tanpa variasi), namun juga jangan terlalu pendek. Minimal antara 8 hingga 10 detik. Tidak ada batas maksimal karena tergantung action yang direkam. Namun sebaik sudah mulai merekam 3 hingga 5 detik sebelum action berlangsung. Berikan durasi yang sama setelah action berlangsung.
9. Jaga setiap shot dalam kondisi steady tanpa pergerakan kamera, setidaknya selama 10 detik. Jika suatu shot akan berisi pergerakan kamera, berikan awalan dan akhiran dalam kondisi steady dengan durasi setidaknya 3 hingga 5 detik.
10. Pada saat merekam, selalu antisipasi pergerakan subyek atau apa yang akan dilakukannya.

*) Naskah Agus Yuniarso dalam Apresiasi Praktis Videografi untuk Staf Komisi Pemilihan Umum DIY yang diselenggarakan oleh Program Profesi Fotografi, Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY), 21 Juni 2007.

Rabu, 20 Januari 2010

Tentang "Kualitas Video Editing"

Hal-hal yang mempengharui kualitas dan proses video editing

1. Pengaruh kualitas imaji dari kamera
Besaran sensor CCD/CMOS, Jenis Format perekaman (Betacam, HDV,
DVCAM,dll, Prosesor data di kamera, output Component atau composit,
Kualitas Lensa, dan Kualitas Pencahayaan pada waktu shooting

Recomended Video Camera Standard Broadcast Sony DXC D55, D50, D35
Recomended Video Camera Semipro Sony HDV Z1U, Sony PD-170, Canon
XLH, Canon XL2

2. Processor Komputer dan RAM (memori)
2 hal tersebut Mempengaruhi kecepatan rendering dan proses editing,
semakin tinggi semakin baik

Recomended Processor quad core 6600 dan sekelasnya
Recomended RAM Minimal DDR2 PC 6400 2Gg

3. VGA Card
Kualitas VGA yang baik akan mampu menampilkan kualitas Efek visual,
resolusi grafis, dan kecepatan playback video yang prima

Recommended VGA, Minimal sekelas NVDIA Gforce 8800 GT, atau lebih
perbedaan Chipset NVIDIA dan ATI tidak terlalu jauh berbeda secara
kualitas

4. Input output transfering device
Semakin baik device yang digunakan akan semakin baik pula hasilnya,
secara umum kamera video digital menggunakan FireWire IEEE 1394,
device ini dianggap cukup menjawab kebutuhan, Device lainnya yang
dianggap baik adalah Component R-G-B

5. Codec / Compressor-Decompressor video
Pertimbangkan Software editing yang digunakan, yang Ideal adalah
software yang memiliki Codec bervariatif, guna beragam keperluan
Misalnya ; Uncompress,DVCPRO 50, DV25, AVI, MPEG series, INDEO, dll
Gambar akan semakin baik jika menggunakan Uncompress, namun
konsekuensi yang diterima adalah besaran file semakin menguras
kapasitas hardisk, dan playback video yang akan terlihat Skiping
(Delay atau patah-patah)

6. Hasil Output
Semakin tinggi kualitas format output, maka semakin baik pula
kualitas gambar yang dapat dilihat, Hirarkinya a/l ;

1. Print to tape Digibeta dengan Uncompress
2. Blue Ray Disc
3. HD DVD
4. DVD,MPEG2
5. SVCD,DIVX,Quicktime
6. VCD,MPEG1
7. Web Streaming dengan bitrate rendah (misalnya 3GP,dll)

7. Retouching
Melakukan Color Grading, dengan Adjustment seputar Gamma, Contrast,
RGB, dan tambahan optical effect lainnya jika diperlukan

Selasa, 19 Januari 2010

Tentang Software Editing

share ilmu ya,....
disini saya coba sedikit membahas tentang s/w yang pernah saya pelajari

Pinnacle itu hampir sama sistemnya dengan Windows Movie Maker

memakai sistem time-based (kalo ga salah) ada sih sebenarnya time-linenya cuma malah bikin repot. simple dan sederhana. karena mudahnya pemakaian jadi agak sulit untuk proses video yang berat dan sesuai dengan keinginan. transisi menarik untuk orang yang belum terbiasa menonton berbagai video namun jika udah sering bergelut akan menimbulkan persepsi sendiri atas transisi tersebut. kemudian effectsnya sederhana, yang paling keren itu earthshakenya Pinnacle keren dan mudah digunakan. untuk yang lain pengaturan untuk mencari hasil yang pas agak sulit dicapai.


Adobe Premiere mirip sama Canopus Edius

murni memakai time-line seluruhnya. efek-efeknya sangat banyak dan bejibun. tool yang sangat banyak dan penuh dengan opsi, dengan melihat user interface-nya aja sangat terlihat professional, namun jika melirik software lain (Vegas/FCP) akan terasa user yang keren itu ternyata cuma manipulasi. tingkat kontrol dan pengendalian untuk pengeditan video disini sangat rumit untuk memotong kita musti memilih tool, untuk memperlambat kadang kita musti harus memilih tool dan atau mengaturnya melalui propertiesnya. Color Balance dan sistem pewarnaannya asyik (secara yang Adobe punya), tapi jujur kalo masih baru dalam dunia video editing akan terasa membosankan dan membawa kesan yang agak suram, namun setelah lama bergelut kita akan mencari warna2 ini.untuk canopus tidak diragukan lagi kelebihan yang paling mencolok adalah sistem bundle software dan hardware (walau harganya cukup mencekik) yang dapat memaksimalkan kinerja kita.



Sony Vegas prinsip kerjanya sama dengan Final Cut Pro ((FCP)Apple punya)


FCP sempat menjajaki peringkat teratas software video editing terbaik, namun semenjak kehadiran Sony Vegas, perlahan ketenaran FCP mulai tersaingi, dua software ini sekarang sudah dipakai para filmmaker kelas atas. diduga banyak film layar lebar yang menggunakan FCP atau Sony Vegas (SV) sebagai software editingnya. kelebihannya adalah user interface yang sederhana (setidaknya lebih sederhana dibanding Premiere) namun dapat memuat seluruh informasi penting. kelebihan yang bakal dirasakan adanya shortcut untuk pemotongan gambar atau tidak ada tool untuk memotong gambar. kemudian di SV ada cara mudah untuk mengatur fade in/out sebuah adegan. cara kerja yang cepat, preview yang sangat cepat, dan begitu mudah. hasil renderan jika diatur secara tepat, maka akan dapat menghasilkan renderan yang hampir setara kualitasnya dengan s/w khusus untuk rendering semisal TMPGencoder / Canopus Procoder (jika hanya mengandalkan s/w tanpa h/w). namun di SV sistem warnanya tidak bisa sespesifik di Adobe Premiere, tingkat kontrasnya terlalu tinggi, warna2 nanggung itu agak sulit dicari... :D:D

fiuh.... that's all....

semoga berguna...

Minggu, 10 Januari 2010

Tips dan Trik Kamera Video Shooting

Ini adalah tips paling sederhana bagaimana membuat Video Shooting, acara bersama keluarga dan teman. Tips ini bisa juga dipraktekan untuk membuat foto karena dasar berpikirnya hampir sama.
Bedanya, video adalah gambar bergerak (motion pics), sedangkan Foto Pernikahan Atau Gambar Pernikahan adalah gambar diam atau still pics. Sebagai gambar bergerak tentu saja video mempunyai satu ciri khas yg beda dengan Foto Pernikahan Atau Gambar Pernikahan, yakni jika membuat kesalahan saat RECORDING maka semua kesalahan seorang amatiran akan terlihat jelas disana. Tips Video Shooting ini telah ditularkan kepada banyak freelance TV atau news cameraman didalam ruang kelas, karena terbukti efektif, saya yakin inipun mudah dipelajari oleh kalian yg membaca sekarang.

Sekarang, pilihlah sebuah aktifitas disekitar rumah untuk latihan misal orang yg bekerja memasak didapur. Jangan cari obyek yg diam (menonton TV misal), carilah yg mempunyai sebuah aktifitas fisik disebuah tempat. Nyalakan peralatan kamera video itu dan ambil jarak secukupnya.

Ingat, jangan malas bergeser.

Cameraman yg buruk adalah dia yg malas berpindah tempat. Bergeraklah, geser posisi badan kearah tembakan video yg paling bersih tanpa halangan apapun cek disini Paket Foto & Foto Pernikahan Digital, jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dekat. Jangan malas berpindah tempat. Jika framing tertutup manusia lain, maka segera geser badan agar angle shot (tembakan lensa) tidak terhalang manusia lain atau benda. Usahakan jangan bergeser ketika camera masih RECORD on, anda dapat melihatnya di Paket Foto & Foto Pernikahan Digital. Matikan rekaman dulu baru geser posisi, setelah diam baru rekam kembali, begitu seterusnya. Jika terpaksa masih RECORD sambil bergeser maka pastikan bahwa ada kejadian yg bagus didepan mata dan perlu direkam.

Jangan salah berdiri.
Posisi berdiri cameraman itu penting. Cameraman yg baik adalah dia yg paham sedang merekam kejadian apa? Misal acara lebaran dan sungkeman. Dia sudah tau jika habis shalat ied, lalu kedalam rumah sungkeman, kemudian makan bersama dstnya. Susunan acara yg dia ketahui dan karakter acara tsb membuatnya dia paham harus berdiri diposisi angle-shot terbaik. Salah berdiri juga membuat frame kosong menganga sia sia. Sisi bagian atas kepala sangaaaaat lebar sedangkan manusianya justru keliatan kecil. Kesalahan framing sia sia spt ini tampak jelek secara visual karena manusia dan event yg seharusnya terlihat jelas malahan menjadi minim.

Ambil shot minimal 10 detik.
Ini habit amatir yg paling sering terjadi dimana mana dan cukup menjengkelkan.
Yakni, ketika merekam Video, mereka cuma merekam 3 detik, lalu off record. Kemudian sekali lagi, ON merekam, cuma 3 detik kemudian off record lagi.

Mata manusia sesungguhnya hanya mampu menyimak sebuah tayangan jika itu melebihi 6 detik. Hitungan 10 detik adalah hitungan paling masuk akal apalagi jika Video ini nantinya akan diedit. Jika cuma merekam 3 detik, dijamin mata akan pusing. Foto Digital Adakalanya merekam lebih dari 10 detik karena didepan mata muncul peristiwa bagus yg bisa menghabiskan waktu hingga 30 detik, yaa gakpapa teruskan saja. Namun jangan lebih dari 1 menit untuk satu adegan yg sama karena membuat kebosanan


trims...